Pencegahan Penyebaran Covid-19 Urusan Sederhana

Covid-19, itu sebutan paling viral beberapa bulan terakhir ini. Dan iya, betul. Urusan pencegahan penyebaran virus bernama resmi Severe Accute Respiratory Syndrome – Corona Virus2, dan yang penyakitnya disebut Covid-19 atau Corona Virus Disease-19 itu sebenarnya adalah hal sederhana.

Namun ada Terms and Conditions terkait Covid-19 yang harus dipenuhi untuk benar-benar bisa mengatakan sederhana dalam pencegahan penyebarannya. Apa TAC atau Syarat dan Ketentuan itu? Nah opini pendek saya ini justru akan menjelaskannya.

Covid-19 berperilaku sederhana dalam proses penyebarannya. Virusnya berpindah ke orang lain melalui percikan ludah yang umum disebut droplets. Si virus numpang di ludah penderita yang dibatukkan. Lontaran droplets terjauh yang diketahui secara sains adalah 1,5 meter.

Kemudian belakangan WHO mengatakan droplets berpenumpang virus Covid-19 itu bisa bertahan dalam wujud yang lebih halus dan melayang di udara. Dan si virus bisa numpang hidup di situ selama 6 – 8 jam.

Nah, dengan memahami bahwa virus Covid-19 berperilaku demikian, manusia yang tidak mau dihinggapinya tinggal melakukan hal yang saya sebut sederhana. Apa saja itu? Mudah, tanpa berpikir panjang karena para ahli sudah memberikan pedoman.

Pertama, praktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS. Ini sudah lama jadi isu yang di- endorse Kemenkes ‘kan? Elemen di dalamnya antara lain jaga asupan hanya yang sehat dan seimbang, membasuh tangan pada saat-saat kritis, istirahat yang cukup, jangan mager alias malas bergerak, jangan rusak tubuh kalian dengan rokok minuman beralkohol minuman bersoda, jaga lingkungan yang bersih, kenakan masker jika sedang di luar rumah, dan seterusnya.

Kedua, jika kalian harus bepergian dan tidak ingin tersambar Covid-19, terapkan jarak minimal dua meter dari orang orang lain sekitar. Tentu saja demi PHBS tadi wajib membawa sanitizer atau selalu membasuh tangan di fasilitas-fasilitas basuh tangan yang ada.

Sudah, dua itu saja. Sederhana bukan? Saya yang sejak muda terbiasa mempraktikkan hal yang pertama walau tidak sempurna, dalam masa pandemi Covid-19 ini tinggal belajar membiasakan diri melakukan hal yang kedua.

Menjadi tidak sederhana jika kalian memang tidak terbiasa mempraktikkan hal pertama, apalagi harus ketambahan yang kedua. Tidak terbiasa bisa karena banyak sebab. Bisa tidak pernah diajar, bisa karena tidak tahu, bisa karena malas, dan seterusnya. Hal inilah yang menjadikan pencegahan wabah Covid-19 secara massal menjadi rumit dan berbiaya besar.

Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas yang dilakukan Kemenkes pada tahun 2012 membuktikan bahwa upaya pencegahan (preventif) terhadap penyakit apa pun termasuk Covid-19 sekali pun, jauh lebih murah dan lebih efektif daripada upaya pengobatan (kuratif) setelah orang sakit.

Jadi jika lebih murah dan lebih efektif, mengapa tidak dilakukan? Terkembali kepada kita termasuk pemerintah, bukan? Ya sudah, silakan saja. Mau hidup sehat atau sakit-sakitan? Mau cara sederhana mencegah penyebaran Covid-19, atau mau dibikin rumit? Itu sebuah pilihan ‘kan? [Abang Rahino].