Covid-19: Seharusnya Kami Tidak Ke Inggris

As the page illustration
Matt Raw dan Ying, istrinya di kampung halaman mereka di Knutsford, Chesfire, Inggris. “Kami keluar dari panci melompat ke api” [foto BBC]

[Selasa, 05/05, 08.59wib/penulis: Fajar L.Rouge] Matt Raw, Ying istrinya, dan Hazel mertua Ying yang berusia 75 tahun, ada di antara rombongan warganegara Inggris yang dievakuasi pemerintah Kerajaan Inggris keluar dari Wuhan saat wabah Covid-19 semakin mendera di sana. Sesampai di Inggris mereka dikarantina. Sekarang mereka menyesal atas keputusan mereka kembali ke Inggris.

Matt sekarang paham bahwa pemerintah Tiongkok telah bertindak segalanya dengan tepat dan benar. “Mereka bertindak jauh lebih cepat daripada Inggris dalam membatasi penyebaran penyakit itu”, kata Matt kepada BBC sebagaiman dimuat di laman BBC hari Senin, 04/05 kemarin https://www.bbc.com/news/uk-england-merseyside-52498893

Raw mengingat-ingat tentang kasus Covid-19 pertama di Inggris, dan menilai apa yang dilakukan pemerintah Inggris setelahnya.

“Seingat saya kasus pertama Covid-19 terjadi saat kami masih berada di karantina Arrowe Park. Saat itu saya berharap pemerintah Inggris sudah menyaksikan bagaimana pemerintah RRT bertindak, lalu melakukannya juga di sini. Tapi mereka tidak bertindak apa-apa,” Raw tampak gemas.

Padahal Raw dan Ying mendapat kabar dari para tetangganya di Wuhan, bahwa mereka sekarang sudah terbebas dari situasi lockdown. Walau pun tahapan pencegahan masih keras ditegakkan, namun kegiatan keseharian sudah berangsur diperbolehkan di Wuhan. Itu terjadi setelah penyebaran Covid-19 turun drastis di Tiongkok.

“Saat itu kami berpikir bahwa daripada tetap di Wuhan, kami lebih baik berada di fasilitas karantina Inggris. Tetapi sekarang saya sangat yakin dan pasti, bahwa pulkam ke sini itu sebuah kesalahan,” kesal Raw mengatakan kepada BBC.

Kita tentu juga ingat bahwa ada delapan orang dari 245 WNI yang tidak bersedia dievakuasi ke Indonesia ketika pemerintahan Jokowi mengirimkan tim penjemputan di Kluster 1 Dunia Covid-19, Wuhan. Mereka dikabarkan merasa lebih nyaman tinggal di Wuhan daripada kembali ke Indonesia yang saat itu belum terjangkit Covid-19. Tidak ada kabar dari mereka tentang pendapat mereka terhadap keputusan tersebut. Namun yang jelas bagi kita adalah, di Wuhan mereka sudah terbebas dari wabah, sementara di Indonesia sebaliknya angka korban terinfeksi dan meninggal terus bertambah. Itu juga terjadi di seluruh dunia kecuali Tiongkok.

Mencermati situs https://www.worldometers.info/coronavirus/ pada jam 08.53wib hari ini, korban terinfeksi di seluruh dunia berjumlah 364.194 orang sedangkan yang meninggal 252.390 orang. Sementara di Indonesia korban positif terinfeksi Covid-19 berjumlah 11.587 sedangkan yang meninggal 864 orang.

Film Animasi Politis

[Minggu, 04/04, 00:20/ditulis Surya Fajar Pangarep] Tiongkok dan AS bagaikan Tom dan Jerry dalam menghadapi penanganan pencegahan penyebaran SARS-CoV2 penyebab Covid-19. Mereka baku tuding tentang siapa paling berdosa dengan merebaknya virus ini. Pertengkaran di antara mereka berdinamika naik turun, lembut kasar.

Trump yang urakan agaknya kalah wibawa dalam komunikasi publiknya jika dibandingkan dengan Xi Jin-Ping politikus kawakan PKT Partai Komunis Tiongkok yang jauh lebih berpengalaman di blantika permainan politik. Bahkan Trump beberapa kali mengalami blunder justru di dalam negeri sendiri.

Terbaru RRT memproduksi film animasi dengan dua karakter utama serdadu terrakota Tiongkok yang legendaris, dan patung Liberty landmark negara AS yang kondang. Keduanya mewujud dalam bentuk layaknya dalam permainan Lego.

Dialog antar keduanya sangat menggambarkan pertengkaran antara AS dan RRT tentang penanganan Covid-19, dinarasikan kocak.