Iran Salah Tembak Lagi

Iran Salah Tembak Lagi
Kapal fregat Jamaran milik AL Garda Revolusi Iran yang hari Minggu 10.05.2020 tanpa sengaja menembakkan misil C-802 buatan Rusia ke kapal serbaguna Konarak milik AL juga [foto FarsNewsAgency]

[Senin, 11.05.2020, 23.25wib/Penulis: Lembayung Fajar] Militer Garda Revolusi Iran untuk kesekian kali hari Minggu siang melakukan kesalahan fatal penembakan yang menimbulkan 19 korban mati dan 15 orang luka-luka parah. Demikian yang dapat dikutip dari The New York Times (TNYT) edisi hari Minggu, 1o.05.2020.

Insiden itu terjadi dalam latihan perang rutin yang diselenggarkan AL Garda Revolusi Iran di Laut Oman lepas pantai kota Jask, Iran. Menurut TNYT, Garda Revolusi Nasional negara para mullah memang secara rutin melakukan latihan perang dengan dua tujuan. Pertama, mereka melakukan ujicoba berbagai alutsista buatan dalam negeri, kedua mereka unjuk kekuatan pada situasi ketegangan yang terjadi antara Washington dan Teheran.

Dalam kasus hari Minggu 10.05.2020 siang, kapal fregat Jamaran melakukan penembakan persahabatan dengan misil C-802, namun entah bagaimana misil tersebut mengunci target kapal serbaguna Konarak yang belum lama digabungkan pada AL Garda Revolusi Iran. Konarak berantakan dan rusak parah.

Kapal serbaguna Garda Revolusi Iran, Konarak, yang dihajar misil salah tembak oleh kapal perang Iran lain dalam latihan perang di Laut Oman, hari Mingu 10.05.2020 siang hari waktu setempat [foto: BBC.com]

Pihak militer Iran mengatakan kejadian tertembaknya Konarak karena kesalahan manusia (human error).

Insiden Jamaran versus Konarak ini adalah kelakuan human error kedua dengan akibat fatal yang dibuat oleh pihak militer Garda Revolusi Iran sejak Januari 2020.

Pada tanggal 8 Januari 2020 pagi, dua rudal diluncurkan dari peluncuran milik Garda Revolusi Iran dan mengunci pesawat sipil penumpang milik Ukraine International Airlines https://www.flyuia.com nomor penerbangan PS752. Sebanyak 176 orang terdiri atas penumpang dan awak pesawat tewas semua, sebagaimana dilaporkan The Guardian 21.01.2020. Entah apa yang ada dalam pikiran anggota militer Iran ketika mereka memutuskan untuk meluncurkan kedua rudal. Sampai hari ini tidak pernah ada penjelasan resmi pihak Iran yang menyakinkan mengenai hal tersebut kecuali bahwa itu adalah kesalahan manusia atau human error karena mengira PS752 yang baru saja mengudara dari bandara internasional Teheran adalah rudal musuh.

Pesawat jenis Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines seperti inilah yang dihajar misil darat ke udara TOR-1 buatan Rusia, yang diluncurkan oleh AU Garda Revolusi Islam Iran tanggal 8 Januari 2020 di dekat Teheran [foto: Wikipedia]

Walau demikian Presiden Iran Hassan Rouhani menyampaikan penyesalan mendalamnya dan seperti dilaporkan oleh The Guardian mengatakan bahwa insiden tersebut adalah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Bahkan sekelompok demonstran di Teheran menuntut pengunduran diri Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Namun tuntutan itu ditolak dengan alasan bahwa Dewan Pakar yang memilih Pemimpin Tertinggi sebenarnya tidak memilih. “Tapi mereka menemukan Pemimpin Tertinggi, karena legitimasi baginya datang dari Allah, Nabi Muhammad, dan para Imam Syiah,” demikian dikatakan oleh wakil dari Garda Revolusi Iran kepada para demonstran.

Reruntuh pesawat Ukraine International Airlines penerbangan PS752 setelah ditembak jatuh pasukan Garda Revolusi Iran [foto: GlobeAndMail.com]

Para analis militer dan penerbangan sipil dunia pada umumnya mengatakan, wilayah udara Iran dan wilayah darat dan laut sekitar Iran dengan demikian tidaklah aman dilintasi. Itu akibat berbagai sebab. Antara lain ketidakhandalan militer Iran, ketegangan Teheran dan Washington, dan sikap Iran yang ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah adidaya di wilayah Timur Tengah.

Perekonomian AS Terburuk Sejak Depresi Besar

Perekonomian AS Terburuk Sejak Depresi Besar

New York yang sudah lama menjadi magnet keuangan dunia. Kini sejak AS diserang Covid-19, menjadi redup tidak lagi menyinarkan harapan kemakmuran [foto H.I.S Travel]

[Sabtu, 09/05/2020, 22.35wib/Penulis: Awasita Adi]. Kehidupan di Amerika Serikat (AS) tampaknya tidak mudah akibat pandemi Covid-19. Perekonomian mereka terjun bebas, rakyat miskin meningkat drastis. Dan yang lebih mengenaskan adalah terkait ketenagakerjaan.

Sebagaimana dilaporkan oleh The New York Times edisi 08 Mei 2020 https://www.nytimes.com/2020/05/08/us/coronavirus-updates.html?campaign_id=60&emc=edit_na_20200508&instance_id=0&nl=breaking-news&ref=headline&regi_id=87992674&segment_id=26995&user_id=914db51279000be6a727ca686b09fc83, selama bulan April lalu, AS kehilangan 20,5 juta lapangan pekerjaan, dan itu mengakibatkan pengangguran menjadi 14,7%. Kondisi parah seperti ini adalah yang terburuk sejak Depresi Besar dasawarsa 1930an yang di Indonesia dikenal sebagai malaise.

Bahkan lebih buruk daripada angka-angka tersebut, Kementerian Perburuhan menjelaskan bahwa disebabkan karena cara pencatatan pengangguran, sangat mungkin sebenarnya angka penganguran sudah mendekati 20%. Masih dari The New York Times.

Kenyataan kondisi perekonomian AS ini paradoks dengan sikon Tiongkok, lawan AS dalam perang dagang sengit yang terjadi setahun terakhir ini. RRT dengan cepat mampu memulihkan sikon perekonomiannya pasca penanganan pandemi Covid-19 di negara komunis terbesar tersebut.

Kondisi perekonomian di AS maupun di RRT dapat dipastikan mempenaruhi sikon perekonomian di Indonesia pula.

Trump Coba-coba Obat Lagi

[Sabtu, 03/5] Pemerintahan Presiden Donald Trump tampaknya main coba-coba obat lagi untuk penderita Covid-19. Itu diumumkan pada hari Jum’at, 02/05 kemarin waktu setempat. Remdesivir dipilih setelah sebulan lalu Trump menyatakan hydroclholoroquine yang aslinya untuk penangkal malaria, dikatakan ampuh menyembuhkan Covid-19.

The New York Times melaporkan bahwa Remdesivir adalah obat yang telah terbukti gagal melawan Ebola dan hepatitis. Produk buatan Gilead Sciences di La Verne, California tersebut secara kilat memperoleh pengesahan dari lembaga pengawasan obat dan makanan AS, FDA (Foods and Drugs Administration) untuk melawan Covid-19.

Keputusan kilat tersebut diambil setelah diketahui bahwa Remdesivir konon bisa menyembuhkan pasien Covid-19 stadium parah dari 14 hari menjadi hanya 11 hari saja. Namun Remdesivir tidak terbukti menurunkan angka kematian pasien.

Riset penggunaan Remdesivir untuk pasien Covid-19 dilakukan oleh National Institute of Allergy and Infectious Diseases atau NIAID. DR.Anthony S.Faucy membenarkan hasil riset tersebut dengan mengatakan bahwa temuan itu adalah bukti sangat penting walaupun bukan temuan sangat ampuh. Presiden Trump memuji temuan tersebut sebagai sesuatu yang menjanjikan.

Walau begitu kajian di Tiongkok menyatakan bahwa Remdesivir tidak berarti apa pun untuk pengobatan Covid-19 stadium tinggi. Laporan mereka diterbitkan The Lancet minggu ini.

Tanpa peduli dengan laporan dari Tiongkok, pihak Gilead Sciences tampaknya mendapat angin di AS. Dia dipesani 1,5 juta ampul untuk diresepkan bagi 150.000 pasien di AS.