JKN: Mengapa Tidak Belajar dari Cuba

JKN atau Jaminan Kesehatan Nasional adalah produk asuransi yang dikelola oleh BPJS Kesehatan

Cuba Sang Jagoan Kesehatan Masyarakat

Cuba tak pelak adalah negara yang sangat sukses melaksanakan program kesehatan dasar masyarakat. Organisasi kesehatan dunia di bawah naungan PBB, WHO bahkan menilai program kesdasmas Cuba adalah yang terbaik di dunia.

Sebagaimana dilaporkan dalam buletin WHO tahun 2008, angka kematian balita Cuba tahun 2004 hanya 7. Artinya ada 7 kematian di antara 1.000 balita. Angka harapan hidup rakyat Cuba tahun 2008 dilaporkan 77 tahun. Sejak dasawarsa 1960an pemerintah Cuba sudah menyebar Puskesmas di seantero negeri jauh hari sebelum bangsa-bangsa di dunia menandatangani Deklarasi Alma Ata 1978 yang disponsori WHO tentang kesehatan masyarakat.

Pemeriksaan kesehatan balita secara berkala di Puskesmas Septiembre, Havana, Cuba [foto: Buletin WHO]

Bandingkan dengan Indonesia tahun 2016 yang tingkat kematian balitanya masih sangat tinggi, yaitu 25,5 (https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/11/25/meski-menurun-angka-kematian-bayi-di-indonesia-masih-tinggi). Itu artinya ada 51 balita yang mati di antara 2.000 kelahiran. Sedangkan dalam hal usia harapan hidup Indonesia, tahun 2010-2015 masih 70,1 tahun. Lalu bisakah ditunjukkan pada kita, di mana saja Puskesmas dimiliki Indonesia pada dasawarsa 1960an?

Paradigma Preventif

Sukses besar Cuba yang luar biasa dalam menjaga status kesehatan masyarakatnya karena paradigma program kesehatan masyarakat yang diselenggarakan negara adalah preventif atau pencegahan. Pemerintah Cuba seolah berbicara kepada para penyakit: “Sebelum kalian menyakiti rakyatku, mereka kami perkuat terlebih dahulu!”

Paradigma preventif yang mencegah penyakit sebelum hinggap dilakukan melalui berbagai pendidikan aspek kesehatan masyarakat, pengawasan status kesehatan masyarakat rentan seperti perempuan, Ibu, anak, dan orang tua, penyediaan fasilitas dan layanan kesehatan yang luas sehingga mudah dan murah dijangkau masyarakat, dan penyediaan asuransi kesehatan gratis bagi seluruh rakyat tanpa membedakan kelas pelayanan.

Cuba ternyata tidak bisa ditundukkan dengan tekanan oleh siapa pun yang punya kepentingan bisnis dan politik di negeri pulau tersebut. Karena program preventif kesehatan memangkas secara signifikan jumlah orang sakit secara nasional. Riset Kesehatan Dasar di Indonesia tahun 2012 pun berbicara tentang hal ini. Sedangkan orang sakit adalah komoditas dagang empuk. Mereka akan mempertaruhkan apa pun demi kesembuhan. Harta benda bahkan aset produksi seperti sawah, ternak pun dijual. Dan semua uang orang yang mencari kesembuhan itu larinya ke dunia medis termasuk industri farmasi, rumahsakit, tenaga medis, pedagang alkes.

Cuba Negeri Diembargo

Barangkali ada yang berpikir bahwa Cuba adalah negara kaya sehingga mereka punya devisa melimpah untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan preventif melalui berbagai program promosi kesehatan. Sama sekali bukan. Mereka termasuk negara miskin. Cuba bahkan senantiasa direcoki tetangganya AS dengan segala cara yang pada intinya bermaksud menyingkirkan rejim komunis sosialis Cuba yang letak geografisnya berada di halaman belakang AS.

Gangguan AS terhadap Cuba sudah dilakukan berkali-kali mulai dari yang paling kasar seperti Operasi Penyerbuan dukungan AS lewat Teluk Babi di Cuba https://id.wikipedia.org/wiki/Invasi_Teluk_Babi. yang gagal total, gangguan ekonomi berupa embargo perdagangan dan ekonomi, sampai gangguan lebih lembut berupa bantuan teknis dan finansial pada kaum pelarian Cuba di AS, Canada, dan negara-negara lain https://en.wikipedia.org/wiki/Cuban_exile. Para diaspora Cuba ini di antaranya melakukan propaganda betapa nyaman kehidupan mereka di luar Cuba karena adanya kebebasan penuh atas hak-hak hidup. Dan sebaliknya betapa menderitanya hidup di dalam negeri Cuba.

Namun pemerintahan Havana bergeming. Walau demikian toh mereka tetap sukses sebagai bangsa dengan indikator kesehatan terbaik di dunia. Cuba bukan bangsa kaleng-kaleng yang mudah ditundukkan.

Bagaimana dengan Indonesia? Pendekatan kesehatan dasar seperti apakah yang dijadikan panglima. Ternyata bukan preventif tetapi kuratif. Indonesia mengutamakan penyembuhan orang sakit, daripada mengajari rakyat mencegah sakit.

Komodifikasi orang sakit umum terjadi di Indonesia. Salahsatunya adalah dijadikannya RSUD sebagai sumber PAD kabupaten/kota. Ini disinyalir oleh anggota DPR dr.Ribka Ciptaning https://www.youtube.com/watch?v=d78uXMTxIFg. Kemudian RSUD-RSUD berlomba-lomba membangun sarana prasarana mereka menjadi rumahsakit unggulan, tidak lain untuk memenangkan persaingan memperoleh pasien, dan ujung-ujungnya PAD meningkat dari pemasukan RSUD tersebut.

Tampaknya bangsa kaya berlimpah sumberdaya alam dan jumlah penduduk ini harus belajar dari Cuba. Bangsa kecil, dengan wilayah kecil, tentu dengan kekayaan alam sangat terbatas. Tetapi mereka berhasil menjadi negara dengan pelayanan kesehatan dasar masyarakat klas dunia yang diakui WHO.

Iuran Terlalu Kecil Diragukan Jadi Penyebab

Berbagai pihak meragukan iuran terlalu kecil adalah penyebab defisit BPJS. Misalnya KPK sejak awal Maret bahkan menengarai adanya salah urus dana BPJS. KPK bahkan menduga adanya fraud dalam penyelenggaraan JKN oleh BPJS dan rumahsakit-rumahsakit. Dari kalangan legislatif juga santer disampaikan agar iuran JKN tidak dinaikkan. Bahkan pemimpin partai koalisi pemerintah PDIP pun menolak kenaikan iuran JKN. DPR pun menduga ada salah urus oleh pihak Manajemen BPJS dalam menyelenggarakan JKN. LSM ICW idem ditto.

Pola Pikir Uang, Uang, Uang

Tapi pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo bergeming. Bahkan anak buahnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan ringannya tanpa beban seolah nir-empati bilang: “Tidak kuat bayar iuran klas satu atau dua ya turun saja ke klas tiga.”

Pola pikir mereka di kalangan pemerintahan sepertinya uang, uang, dan uang saja. Mereka sepertinya tidak mampu, atau tidak mau melihat cakrawala yang lebih jauh dan luas, terkait pembiayaan JKN oleh BPJS. Entah sistemnya, entah pemberdayaan masyarakatnya untuk menjadi sehat sehingga tidak sakit-sakitan, entah aspek keadilannya, dan seterusnya dan sebagainya.

Oleh karena itu, mengapa para petinggi kita tidak belajar saja dari Cuba? Kasus sukses Cuba dalam penanganan kesehatan masyarakat dengan sistem pembiayaannya yang bagi seluruh rakyatnya adalah gratis, adalah sebuah best practice. Belajarlah ke sana, replikasi metode dan teknik mereka tentu dengan modifikasi-modifikasi yang sesuai sikon relevan dengan Indonesia, ujicoba setahun, revisi setelah itu, dan seterusnya.

Terdapat anjuran untuk belajarlah walau sampai ke negeri Tiongkok. Nah untuk bidang penanganan kesehatan masyarakat, saya anjurkan pemerintah untuk mau mengikuti nasihat belajarlah penanganan kesehatan masyarakat walau sampai ke negeri Cuba [Abang Rahino, bisa dihubungi melalui surel di alamat sanggarkertas@gmail.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *