Didi Kempot: Bapak Patah Hati Nasional …

Dionisius Prasetyo alias Didi Prasetyo alias Didi Kempot, Sang “Bapak Patah Hati Nasional” meninggal dunia hari ini, Selasa 05 Mei 2020, di kota kelahirannya, Sala [foto suara.com]

[Sabtu, 05/05/20, 16.00/oleh Awasita Adi] Didi Kempot atau yang bernama asli Dionisius Prasetyo, hari ini Selasa, 05 Mei 2020 meninggal setelah dirawat di RS Kasih Ibu, Sala, selama beberapa jam. Dikabarkan, Didi Kempot terkena serangan jantung, meninggal dalam usia 53 tahun.

Sangat mungkin tidak ada satu pun orang Indonesia yang meragukan totalitas Didi Kempot dalam menekuni pilihan hidup yang telah diambilnya. Sebuah pilihan hidup yang ditekuninya sejak ia masih hidup menderita di jalanan kota Surakarta sebagai pengamen jalanan.

Meniti Dari Sangat Bawah

Dalam meniti kehidupannya, ia tidak mengandalkan ayahnya Edi Gudel, pelawak senior di Srimulat yang legendaris. Atau kakak kandungnya Mamiek Prakoso yang telah terlebih dahulu sukses sebagai pelawak di Srimulat juga. Namun Prasetyo muda alias Didi Kempot kelahiran 31 Desember 1966 ini mengambil jalan pilihannya sendiri sebagai pengamen tunggal sejak ia berusia 18 tahun.

Didi Kempot bahkan tidak pernah lulus sekolah SMA karena ia drop out. Namun sang ayah memberi bekal yang dia pegang teguh, bahwa untuk menjadi besar tidak harus sekolah formal tinggi-tinggi. “Hal terpenting yang wajib diugemi adalah ketekunan mengembangkan bakat yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kamu,” begitu kira-kira Edi Gudel berpesan kepada Prasetyo remaja ketika tidak lulus sekolah dan ogah lanjut sekolah lagi.

Menantang Kerasnya Ibukota

Prasetyo mengamen selama tiga tahun di Sala sampai 1986 sejak awal 1984. Kemudian dia memberanikan diri merantau ke ibukota Jakarta sejak 1987. Di kota besar penuh tantangan dan sekaligus peluang itu, Prasetyo membangun komunitas Kempot, Kelompok Pengamen Trotoar. Dari nama itu, istilah Kempot menempel khas pada nama panggilannya yang Didi menjadi Didi Kempot yang menjadi citra dirinya.

Kehidupan di jalanan yang keras di ibukota tidak membuat Didi Kempot takut merekam lagu-lagunya secara mandiri di studio musik. Hasil rekamannya kemudian dia tawarkan ke para produser. Namun Dewi Fortuna belum melirik pada anak muda ini. Tak satu pun dapur rekaman yang mau memproduseri Didi Kempot.

Mulai Melahirkan Album

Baru pada tahun 1989 Musica Studio bersedia menggandeng Didi Kempot membuat album perdananya. Salahsatu lagu terpopuler dari album perdana Didi Kempot tersebut adalah lagu Cidra (Cidro) https://www.youtube.com/watch?v=0ADwyqBL5ds.

Lagu Cidro yang bercerita tentang patah hatinya tersebut adalah sebuah kisah nyata dirinya. Kemudian lagu-lagu dengan lirik bernuansa patah hati menjadi ciri khas karya musik Didi Kempot secara dominan, dari 700 lagu ciptaannya.

Karena dominasi tema patah hati tersebut, Didi Kempot oleh komunitas penggemarnya yang tergabung dalam Sobat Ambyar dinobatkan sebagai Bapak Patah Hati Nasional bahkan dibahasainggriskan menjadi The Godfather of Broken Heart.

Kombinasi segmentasi lagu bertema patah hati dan genre campursari berbahasa Jawa, membuat popularitas Didi Kempot cepat menanjak walau tidak mendadak tenar. Komunitas Jawa di Indonesia adalah mayoritas dengan prosentase sebesar 40,22% pada Sensus Nasional 2010 https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa. Didi Kempot dengan cerdik membidik segmen pasar ini. Dan dia berhasil gemilang!

Setelah berjuang menantang kerasnya persaingan panggung pertunjukan dan dunia rekaman ibukota sejak 1989, popularitas Didi Kempot secara perlahan menanjak. Salahsatu kiat mendongkrak popularitas adalah Didi Kempot tidak terlalu memilih penanggapnya. Siapa pun yang memintanya manggung, dia layani. Sehingga berbagai lapisan masyarakat dan komunitas semakin mengenal dia.

Karier Internasional

Didi Kempot untuk pertama kali mengadakan tur ke luar negeri pada tahun 1993 atas undangan masyarakat Jawa Suriname, di Amerika Selatan. Dengan dukungan masyarakat Jawa yang memang suku mayoritas di negeri bekas jajahan Belanda tersebut, Didi Kempot menetap beberapa tahun di sana. Banyak job dia terima karena memang suku Jawa Suriname senantiasa rindu akar budaya mereka, dan tekun merawatnya di negeri rantau.

Sukses di Suriname sebagai artis penyanyi papan atas, Didi Kempot tahun 1996 terbang ke Belanda. Di Negeri Kincir Angin tersebut Didi Kempot sempat merekam album “Layang Kangen” https://www.youtube.com/watch?v=lQ2PTIF8wC0. Didi Kempot menetap dan menjadi artis dengan job rutin di Belanda sampai 1998, kemudian kembali ke Indonesia.

Di Indonesia kiprah Didi Kempot semakin berkibar dan semakin banyak lagu campursari dan congdut atau keroncong dangdut tercipta dari tangannya.

Puluhan Album

Didi Kempot menghasilkan puluhan album, antara lain Stasiun Balapan (1999), Modal Dengkul, Tanjung Mas Ninggal Janji, Seketan Ewu, Plong (2000), Ketaman Asmoro (2001), Poko’e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu Alas bersama Nunung Alvi (2004) dan Ono Opo (2005). Menurutnya, dia sudah mencipta tidak kurang dari 700an lagu. Namun Didi Kempot mengaku pencatatan diskografi itu tidak rapi dan sedang dalam pencatan ulang. Popularitas lagu Stasiun Balapan membuat Didi Kempot didaulat PT Kereta Api Indonesia sebagai Duta Kereta Api Indonesia.

Konser Amal Covid-19

Pada 11 Maret 2020 Kompas TV bekerjasama dengan manajemen Didi Kempot menyelenggarakan Konser Amal Dari Rumah. Magnet kuat karena popularitas Didi Kempot berhasil mengumpulkan dan sebesar Rp 5,3M lebih yang disumbangkan dari 30.230 orang penggemarnya di seluruh dunia, hanya dalam waktu tiga jam siaran. Sedangkan Total donasi sementara yang tercatat per tanggal 17 April 2020, sudah mencapai Rp7,511,542,259. Hasil konser amal ini adalah untuk membantu masyarakat yang terkena dampak pandemi virus corona atau Covid-19.

Konser Ambyar Tak Jogeti

Sebenarnya Didik Kempot sudah dikontrak oleh sebuah EO di Jakarta untuk menyelenggarakan konser memperingati 30 tahun pengabdiannya di dunia musik. Konser yang dirancang besar-besaran dengan memilih venue Gelora Bung Karno (GBK), Senayan di Jakarta tersebut bertajuk Konser Ambyar Tak Jogeti. Tanggal sudah pula diset yaitu Jumat, 10 Juli 2020.

“Tanggal 10 Juli 2020. Itu memang hari Jum’at, karena Mas Didi Kempot padat pada hari Sabtu dan Minggu,” kata Direktor Garindo Media Tama, Dian Eka, Selasa, 10 Maret lalu sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia hari ini.

Namun karena terjadi wabah Covid-19, konser diundur sampai 14 November 2020. Tapi apa lacur, Sang Empunya Segala menghendaki lain. Dionasius Prasetyo alias Didi Prasetyo alias Didi Kempot hari ini tanggal 05 Maret 2020 berpulang ke haribaan Sang Keabadian. Selamat jalan Mas Didi Kempot. Pengabdian Anda menginspirasi bergenerasi manusia Indonesia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *